cover buku : 100 Tumbuhan Dilindungi di Gede Pangrango
Gerakan Penanaman Pohon dan Peresmian Listrik Tenaga Surya di Desa Ciputri Kecamatan Pacet, dilangsungkan di Wisma Gambung, Ciputri 10 febuari 2011. Acara itu dihadiri oleh Wakil Bupati Cianjur Suranto beserta jajaran di bawahnya juga Direktur Green Radio Santoso.
Kegiatan dimulai dengan menanam pohon di tepi jalan Desa Sarongge dilanjutkan dengan peninjauan sekaligus peresmian instalasi listrik dari panel surya untuk 60 rumah di Sarongge Girang. Warga mendapatkan listrik sekitar 100 - 200 watt untuk menghidupi dua lampu di rumah mereka.
Kini warga Desa Sarongge Girang tak perlu memasang lampu minyak lagi di malam hari. Itu artinya mereka bisa menghemat pengeluaran sebesar Rp4500/hari. Anak-anak juga bisa belajar di malam hari.
Untuk memotivasi anak-anak sekolah di Desa Sarongge Girang, Direktur Green Radio Santoso memberikan beasiswa untuk 25 murid di kawasan Sarongge Girang. Anak-anakSarongge mempunyai cita-cita yang tinggi. Seperti dokter, pengusaha sukses, pemain bola profesional, sampai menjadi penjahit.
(via brigitles)
Sarongge dan perjalanan ke air terjun Ciheulang.
Sungai antara Air Terjun dan Tanjakan Kecubung, berarti Sungai Ciheulang
(Source: brigitles)
Sarongge dan perjalanan ke air terjun Ciheulang.
Sungai itu, kalau setelah air terjun, dan sebelum tanjakan kecubung, berarti : Sungai Ciheulang.
(Source: brigitles)
— Bab 2 : Puspa
**
Yang tak diceritakan Karen adalah sebuah rahasia gerakan. Ia sedang ikut pelatihan organisasi para Kesatria Pelangi. Di sebuah perkemahan yang dirahasiakan. Karen turut pelatihan itu, lewat seleksi ketat. Hanya 8 anak muda Indonesia yang beruntung dapat kesempatan berlatih aksi bersama pakarnya itu. Mereka akan tinggal di camp 4 bulan. Berlatih macam-macam hal tentang menjadi aktifis pembela lingkungan. Mereka ditempa untuk menghadapi situasi berbahaya, konflik dengan para perusak bumi. Para Kesatria Pelangi itu berlatih militan, dengan mengedepankan aksi tanpa kekerasan. Ini membutuhkan disiplin, yang tidak hanya datang dari latihan fisik, tetapi juga dasar pemahaman gerakan yang baik. Pelatihan itu dirancang untuk sebuah aksi besar yang akan mereka gelar dalam waktu dekat. Karen menikmati betul latihan itu. Meski kadang tergoda oleh rindunya pada Husin.
Bahan pelatihan tentang keragaman hayati di hutan tropis, bahaya perubahan iklim adalah hal-hal yang biasa ditemui Karen sejak di bangku kuliah. Tapi, ia terpesona oleh cara mentor-mentornya menyampaikan presentasi. Dengan berbagai klip video, alat peraga, membuat persoalan menjadi dekat. Kesannya lama tersimpan di benak. Ini memang cara kampanye yang sangat modern. Beda dengan kuliah di kampus. Meski materinya mungkin banyak yang sama. Karen juga belajar komunikasi dengan media. Menyebarluaskan propaganda, bahan promosi untuk membentuk opini publik. Perang perebutan opini, selalu penting dalam tiap aksi yang hendak meraih dukungan publik. Ini hal baru buat Karen. Ia belum terbiasa bekerja dengan media. Pelatihan ini sangat menggairahkan.
Tapi yang paling berkesan buat Karen adalah organisasi aksi. Ia belajar bagaimana bekerja bersama tim untuk mencapai sasaran aksi, dengan mentor-mentor berpengalaman. Persiapan, disiplin, konsentrasi, dan waktu. Adalah hal-hal yang akan selalu diingatnya nanti dalam menjalankan aksi penyelamatan hutan. Salah seorang mentor dalam pelatihan itu, Pedro Gonzales, punya segudang pengalaman aksi Kesatria Pelangi di Amazon. Ia pernah merancang aksi-aksi mencegah pembalakan liar hutan Amazon oleh pengusaha hitam. Dia juga kenyang pengalaman aksi mencegah kapal-kapal perusak hutan berangkat dari pelabuhan ekspor. Pedro sengaja didatangkan dari Brazil, untuk persiapan aksi para Kesatria Pelangi di Indonesia. Aksi tentang hutan, yang persisnya masih dirahasiakan.
“Konsentrasi pada tujuan. Jangan lepas kendali, karena represi polisi,” tandas Pedro. Mereka pun berlatih simulasi. Satu regu aksi ingin menduduki crane-crane alat berat yang sedang membongkar hutan gambut. Buldoser itu tentu dijaga seregu polisi. Pedro dan lima mentor lainnya menjadi pembuka jalan. Di lapis kedua, Karen dan peserta latihan, menjaga konsentrasi, supaya tidak terbetot perhatian pada represi yang mungkin dialami regu pembuka. Betul saja, ketika Pedro dan teman-temannya melangkah, mereka langsung diringkus sejumlah polisi. Para polisi itu, simulasi juga tentunya. Mereka dari anggota Kesatria Pelangi sendiri. Hampir semua aparat sibuk menyeret Pedro dan teman-temannya. Karen melihat celah. Ia memimpin timnya, menerobos barisan polisi yang lepas konsentrasi dari tugas menjaga crane. Ia langsung naik buldoser. Seperti kebiasaannya memanjat tebing. Tak hirau sama sekali dengan Pedro yang digelandang polisi. Karen langsung mengikatkan dirinya di alat berat. Dan adegan perantaian alat perusak hutan itupun tercapai. “Well done,” teriak Pedro.
Dalam beberapa detik kemudian, tim dokumentasi sudah siap di posisi yang ditentukan. Ada fotografer, juga videografer. Mereka ini bekerja sangat profesional. Ambil gambar cepat, dan mengirimkan ke editor situs Kesatria Pelangi seketika. Dalam hitungan menit, gambar-gambar aksi itu akan menyebar ke seluruh dunia. Juga lewat media. Pedro boleh ditahan polisi, dan sebentar lagi ada tim legal dari Kesatria Pelangi yang mengurusnya. Tetapi, pesan untuk melawan perusak hutan, sudah dikirim ke seluruh dunia. Membangunkan kesadaran orang tentang perlunya menjaga bumi. Satu-satunya bumi, tempat manusia berpijak, hidup dan beranak-pinak.
Itu memang baru simulasi. Latihan. Bukan kondisi yang sebenarnya. Kemampuan sebenarnya, masih harus diuji di lapangan. Di medan aksi, yang tempat dan waktunya masih dirahasiakan. Karen seperti tak sabar. Tapi, ia habiskan waktu latihan bersama teman-teman Kesatria Pelangi itu dengan antusias. Ia merasa seperti satu keluarga, dengan teman-teman baru, dan juga para mentor dari berbagai negeri itu. Nyaman punya tujuan yang sama. Dan itu, terbentuk dari interaksi bersama di dalam organisasi Kesatria Pelangi.
Nama Para Kesatria Pelangi itu, diilhami kisah-kisah suku Indian. Suku Cree, misalnya. Mereka punya ahli nujum perempuan bernama Mata Api. Ia mempunyai gambaran masa depan begini. Bumi akan rusak karena keserakahan manusia. Hutan dihancurkan, burung-burung jatuh dari sarangnya. Sungai menghitam. Ikan-ikan mati teracuni. Polusi menyelimuti bumi. Itu berarti, umat manusia juga akan menuju kepunahannya. Dalam kegentingan itu, muncullah para kesatria pelangi. Mereka menyelamatkan keadaan. Melawan perusakan. Merawat alam yang tersisa. Para kesatria itu mengajarkan cara hidup baru yang tidak serakah. Berdamai dengan alam.
Suku Indian Sioux punya pepatah yang kurang lebih bermakna sama. Katanya : Akan tiba waktunya, bumi ini seperti sakit. Hewan dan tumbuhan bermatian. Maka suku-suku Indian akan mengumpulkan roh-roh mereka, mengumpulkan orang dari segala bangsa, warna kulit dan kepercayaan, untuk menyelamatkan bumi. Mereka yang berjuang untuk menyelamatkan bumi itu adalah para kesatria pelangi. Pelangi selalu mempunyai makna sentral dalam alam pikir suku Indian. Ia dianggap pertanda dari anugerah yang mahakuasa. Tempat munculnya pelangi, dipercaya sebagai tempat yang menyimpan perdamaian, dan kasih. Itu sebabnya, para kesatria pelangi bukan hanya menjaga alam; tetapi mereka mempraktekkan saling welas asih, terutama kepada mereka yang lemah. Orang tua, anak-anak, mereka yang sakit, mendapat perawatan khusus di masa para kesatria itu hidup. Mereka sangat peduli pada yang lemah. Dengan semua gambaran ideal itu, tentu membanggakan menyandang nama Kesatria Pelangi. Anak-anak muda yang berpikiran sehat, ingin menjadi bagian dari barisan para kesatria pelangi.
Dan riwayat Kesatria Pelangi memang mengesankan. Tahun 1985, ketika giat menentang percobaan nuklir Perancis di Polynesia, kapal mereka ditorpedo pasukan khusus Perancis. Kapal itu tenggelam di Pelabuhan Auckland, Selandia Baru. Tetapi, militansi para kesatria pelangi menjadi makin disegani dunia. Orang orang yang berani melawan pasukan khusus, bahkan tanpa mengedepankan kekerasan. Mereka mengambil risiko dicederai. Dan, tetap percaya pada pentingnya gerakan tanpa kekerasan. Para kesatria pelangi menjadi inspirasi anak-anak muda di seluruh dunia, untuk turut menjaga bumi. Gambar-gambar mereka ketika menghadang kapal tanker minyak, hanya dengan perahu karet. Atau aktifis yang mengikatkan diri di jangkar kapal kelapa sawit supaya tidak bisa berlayar. Adalah sekedar contoh, bagaimana para kesatria pelangi itu menebarkan semangat melawan para perusak bumi. Sekaligus memikat hati anak-anak muda untuk menjadi kesatria pelangi.
Seperti yang sekarang berkobar di dada Karen. Ia ingin menjadi kesatria pelangi. Karen sangat percaya, Indonesia membutuhkan lebih banyak kesatria pelangi seperti dirinya. Untuk melawan perusak hutan yang makin tak terkendali. Dia tak sabar menanti misinya, menghadapi para perusak lingkungan di tempat terpencil. Berhadapan muka dengan muka. Menghentikan buldoser yang merobek-robek perut bumi. Hati kecilnya berharap, suatu hari Husin akan turut bergabung, menjadi kesatria pelangi. Bersamanya, menjaga bumi.
Hari mulai terang tanah. Matahari perlahan bangkit dari balik Gunung Halang. Belum sepenuhnya terbit. Tapi, semburat sinarnya mulai memerahkan lereng Gunung Gede. Jatuh di kebun-kebun sayur kaki gunung itu. Juga di kebun organik yang dikelola Husin. Sepagi itu, Husin sudah berkutat dengan kebun kesayangannya. Bau tanah sekitar fajar, sebelum sisa embun habis menguap diusir terik matahari, adalah bau kesuburan yang selalu ingin dihirupnya sampai tuntas. Energi itu memupuk cintanya pada Sarongge.
Tiap kali menatap Gunung Halang, di sebelah Timur kebunnya, Husin teringat cerita orang-orang tua dulu. Kenapa gunung itu ada di sana. Gunung itu ada diantara Gunung Geulis dan Gunung Gede, seperti jadi pemisah. Konon, pada masa dulu, gunung bisa saling jatuh cinta. Gunung Geulis yang memang cantik, jatuh cinta pada Gunung Gede yang kokoh menjulang di sebelah baratnya. Karena mereka masih bersaudara, percintaan itu terlarang. Maka dewa membuat gunung baru, di tengah-tengahnya, yang diberi nama Gunung Halang. Husin memandangi Gunung Halang, dan Gunung Geulis di belakangnya. Dimana-mana tampak wajah Karen, tersenyum padanya. Kira-kira, apa yang akan menjadi Gunung Halang, diantara dirinya dan Karen? Husin kerap bertanya, dan tak tahu jawabnya.
Peluh terus mengucur dari wajah dan punggung Husin. Ia menikmati kerja di kebun, olahraga gratis dengan keriangan pagi hari. Ia membungkuk di antara guludan, memilah brokoli yang kali ini jadi prioritasnya. Kebun organik, selalu terdiri dari campuran sayur yang beraneka-ragam. Ia rutin memanen kebun, dengan fokus berbeda-beda dua kali setiap pekan. Panen itu akan langsung disetor ke organisasi petani organik, untuk dipasarkan ke konsumen di perkotaan. Hasilnya tiga kali lebih mahal dibanding sayur yang masih pakai pestisida. Itu sebabnya, Husin optimis, suatu saat ia akan dapat meyakinkan petani Sarongge, teman-teman sekampungnya meninggalkan pestisida, beralih ke pertanian organik. Perubahan itu soal waktu saja.
Sekarang Husin bergegas menyelesaikan panen dan merapikan kebunnya. Sebab, siang ini, sebelum tengah hari, akan ada rombongan Green Radio yang menanam pohon adopsi di kebun Kang Pupun di Pasir Leutik. Sekitar setengah jam perjalanan dari kebun Husin. Dia ingin berada di sana. Membantu penanaman itu. Menemani petani, berinteraksi bukan hanya dengan staff Green Radio yang mulai mereka kenal; tetapi juga dengan relasi Green Radio. Ada dari perusahaan, kelompok pecinta alam, juga individu-individu. Sejak program adopsi dimulai tiga bulan lalu, berbagai ragam adopter – juga tokoh tokoh masyarakat - telah mengunjungi Sarongge dan menanam pohon. Husin ingin membantu program adopsi pohon. Lebih-lebih, dia rindu bertemu Karen.
Rombongan itu terlihat bagai titik-titik kecil. Husin melihat dari saungnya di ketinggian 1.600 mdpl. Rombongan adopter berangkat dari kampung terakhir di Sarongge Girang, tempat terakhir mobil patroli kehutanan dapat mencapainya. Dari tempat itu, hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki. Atau kalau agak nekat, pakai ojek motor, yang biasa mondar-mandir membawa hasil panen. Tetapi, kalau rombongan adopter sebanyak 50 orang seperti kali ini, sulit mengerahkan motor sebanyak itu dari Sarongge Girang. Adopter, yang banyak diantaranya tak terlatih berjalan jauh, perlu waktu hampir satu jam dari pemberhentian mobil itu ke saung Husin. Tempat yang biasa dijadikan shelter terakhir sebelum masuk area adopsi pohon. Bekas tanah Perhutani yang sekarang jadi bagian taman nasional.
Husin mondar-mandir di depan saungnya. Ia gelisah. Berharap dalam rombongan Green Radio kali ini, Karen akan turut serta. Sudah belasan kelompok datang mengadopsi pohon, Karen tak pernah terlihat ikut. Sejak pertemuannya yang tak terduga dalam peresmian program adopsi itu, Husin tak pernah lagi melihat Karen. Ia juga belum tahu bagaimana mesti melanjutkan kontak, setelah jawaban Karen tentang : Hutan di Jawa itu. Husin menyimpan nomor HP Karen. Tapi ia selalu ragu, tiap kali hendak memulai kontak. Karenanya, Husin memilih berharap “Suatu hari, Karen akan turut dalam rombongan adopter.” Harapan itu juga membuncah hari ini.
Rombongan makin dekat. Asep tampak ada di paling depan. Di temani Duroni, Pupun, dan beberapa adopter yang gesit jalannya. Setiba di saung, Asep memperkenalkan tamunya.
“Sin, ini teman-teman dari Indosat mau menanam pohon.”
Husin menyilakan duduk. “Mari bapak-ibu, istirahat sebentar. Sebelum lanjut ke kebun tempat adopsi.”
“Masih jauh pak?” tanya seorang adopter.
“Sudah dekat pak. Itu sudah kelihatan,” timpal Kang Pupun sambil menjulurkan tangannya.
“Bulan juga kelihatan pak,” sahut tamunya. Ia pasti sudah cukup kesal. Karena di perjalanan selalu diberi tahu, “ sudah dekat.” Dekat-jauh memang sangat relatif. Terutama untuk mereka yang harus berjalan mendaki, sambil kehabisan nafas. Semua jadi terasa jauh.
“Kira kira setengah jam, kalau jalan santai,” kata Husin menengahi. “Sebaiknya bapak-bapak ambil kesempatan untuk istirahat, sambil menunggu teman-teman yang belum sampai.” “Silakan dicoba tehnya,” kata Husin menawari.
Sedikit-sedikit rombongan berkumpul di saung Husin. Selain rombongan adopter, ada juga beberapa staff Green Radio. Husin masih celingukan. Berharap menemukan wajah Karen diantara rombongan tamunya. Tapi, yang dicari tak ada. “Dia memang nggak ikut Sin,”kata Asep yang segera tahu, siapa yang dicari Husin. “Tak apa. Saya tetap ikut ke atas. Menemani penanaman,” kata Husin coba menutupi kekecewaannya.
Setelah cukup istirahat, dan segar oleh teh hangat asli Sarongge — teh hijau yang di ujung pahitnya terasa manis — rombongan berjalan menyusuri punggungan bukit. Turun ke kali Kang Pupun, dan mendaki lagi ke Pasir Tengah. Yang disebut Kali Kang Pupun itu, kadang ada airnya, kadang tidak. Tergantung musim. Dan, nama itu memang diambil dari nama Pupun. Karena waktu tim Green Radio survei mencari sumber air, dan tiba di tempat itu, tak seorang pun tahu apa nama kali yang mereka lihat. Kebetulan Pupun ada di paling depan rombongan pencari air, maka namanya pun dipakai untuk penanda. Kali Kang Pupun. Kali ini hampir selalu dilewati adopter, yang berangkat dari saung Husin.
Setelah itu rombongan berbelok ke kanan, menuju Pasir Leutik. Di sana, 2.000 bibit pohon telah disiapkan. Lubang tanam sudah dibuat. Dan ajirnya dari sebilah bambu tampak di samping setiap lubang. Dibantu petani, para adopter menanam pohon berramai-ramai. Asep dan teman-temannya dari Green Radio, menandai tiap pohon dengan GPS, mengambil foto penanamnya, dan mencatat jenis pohon yang ditanam. Kali ini bibit puspa yang paling banyak ditanam. Pohon hutan berbunga wangi itu, diharapkan dapat memenuhi buki Sarongge sampai ratusan tahun ke depan. Pohon ini memang istimewa. Selain bunganya yang putih dan wangi itu bisa diekstrak menjadi parfum, umur puspa pun bisa luar biasa panjang, sampai beberapa abad. “Cucu-cicit saya pun, nanti bisa melihat pohon puspa ini,” kata seorang adopter sambil minta difoto bersama pohonnya.
Acara foto-foto tentu tak berhenti di situ. Sesi jeprat-jepret yang heboh, adalah kegairahan tersendiri buat setiap rombongan adopter. Tak sedikit yang langsung mengunggah fotonya ke profil facebook mereka. Setelah puas berfoto, rombongan menuruni bukit. Meninggalkan Pasir Leutik. Husin menemani mereka sampai di saungnya. Ia tetap tinggal di sana, ketika semua tamunya, termasuk Asep dan rombongan Green Radio turun ke tempat penjemputan mobil patroli hutan.
“Lain kali saya nginap lagi di saungmu,” kata Asep sambil pamitan. Husin mengangguk.
“ Iya, kita perlu bicara lebih banyak sama petani,” timpalnya. Lantas, kedua karib itu pun berpisah.
Bukit Sarongge kembali sunyi. Sesunyi hati Husin, yang didera rindu mendamba Karen. Kali ini, ia tak tahan lagi. Husin mengambil telepon tangan yang jarang sekali dipakainya. Ia memanjat pohon manglid di tengah kebunnya, dengan harapan mendapat sinyal telepon. Biasanya di tempat itu, ada sinyal sebaris. Cukup untuk mengirim pesan pendek. Dan, sambil bergelantungan di dahan manglid itu, Husin menulis pesan. “Ratusan orang bergantian menanam pohon. Tapi tak pernah kulihat wajahmu,” tulis Husin. Ia menunggu cukup lama di atas dahan manglid itu, sampai datang jawaban.
“Kangen ya?” goda Karen.
Husin tak mau hilang kesempatan. Ia berdebar menjawab, “Banget. Sudah berapa dekade kita tak bertemu.”
“Ah Lebay. Baru juga tiga bulan,” balas Karen.
“Tiga bulan penanggalan umum. Bagiku tiga dekade. Itu karena kangen.”
“Aku juga kangen,” balas Karen.
Husin kaget. Ia hampir bersorak, dan meloncat. Untung segera sadar, kalau dia masih di atas pohon manglid. Tapi Husin juga tak mau turun. Takut kehilangan sinyal.
“Kapan kemari?”
“Belum bisa,” balas Karen
“Kapan bisanya?”
“Belum tahu.”
“Kamu di mana sih?”
“Tak bisa kujelaskan. Nanti saja,”
“Kamu diculik alien?”
“Husin, kamu lucu deh,”
“Nggak, aku kangen.”
“OK, aku ke Sarongge secepatnya.”
“Kapan?”
“Nggak tahu.”
“Siapa yang tahu?”
“Sin, kamu ngeyel.”
“Nggak, aku cuma kangen.”
“Aku juga. Tak sabar bertemu kamu, ” balas Karen menutup percakapan via pesan pendek.
Husin perlahan turun dari pohon manglid. Pikirannya melayang. Dadanya membuncah. Tak sangka Karen pun rindu bertemu dirinya. Ia berjalan kembali ke saungnya. Dan di setiap langkah, yang terlihat hanya wajah Karen. Matanya yang bening, penuh semangat. Senyumnya yang lepas, menebar kehangatan. Rambut hitamnya yang ikal selalu tergulung. Semua membangkitkan kenangan.
Hatinya tak mau menerima alasan apapun : Kenapa Karen tak bisa ke Sarongge?
**
Hamparan bunga puspa memutih di Kandang Batu – tempat istirahat di jalur Gede-Pangrango. Kelopak bunganya berserakan, bercampur dedaunan, tampak mirip permadani alami yang sejuk. Oktober-Desember, adalah musim puspa berbunga dan berguguran. Bunganya menebar wangi di sepanjang jalan setapak.
Puspa, atau nama latinnya : Schima wallichii, adalah tanaman endemik di taman nasional itu. Sebarannya cukup luas, dari hutan sub montana hingga sub alpin, ketinggian 1.000 – 2.650 mdpl.
Bunga puspa menyendiri di ujung ketiak tangkai daun. Warnanya putih bersih. Kadang kita sulit membedakan dengan bunga Ki Leho. Tetapi kalau kita cium, segera terasa bedanya. Puspa jauh lebih wangi. Bunganya yang harum itu, sebetulnya sangat potensial diekstrak menjadi parfum. Tetapi, karena lokasi tumbuhnya di dalam taman nasional, sulit dan terlarang mengumpulkan bunga puspa untuk diproduksi. Entah, kalau puspa yang sekarang jadi bagian dari program adopsi pohon. Letaknya cukup dekat dengan perkampungan. Apakah suatu hari bisa menjadi bagian dari pendapatan hutan non-kayu?
Tinggi pohon puspa bisa mencapai 40 meter. Percabangannya sedikit. Batangnya bulat, dengan kulit berwarna hitam. Kalau sudah tua, kulit puspa bersisik mirip kulit buaya. Puspa berdaun tunggal, lonjong hingga lanset, dengan ujung melancip tajam. Daunnya yang muda berwarna merah keunguan. Buah puspa, biasanya muncul Desember-April, berbentuk bulat dengan tangkai panjang berbulu. Warnanya putih keperakan. Buah dan daun mudanya, adalah makanan kegemaran surili, lutung dan owa jawa.
Pohon puspa bisa tahan hidup ratusan tahun. Kecuali ditebang, atau roboh kena badai angin. Itu sebabnya, Karen memilih menanam puspa di kebun Husin. Dia berharap, pada musim berbunga, puspa itu akan mewangi di Bukit Sarongge.
Ia ingin meninggalkan pohon yang berumur panjang, dan terus menebar harum untuk Husin. *
Sarongge menyimpan berjuta keindahan, tugas kita hanya menjaga itu semua tetap indah atau membuatnya lebih indah dan alami :)
Kayaknya bukan senja . Tapi subuh.
— Bab 1: Sarongge